Akhirnya, aku berani juga untuk mengungkapkannya. Moment itu mungkin akan selalu kukenang, bagaimana aku duduk di atas tembok yang tingginya sekitar 1 meter, menyilakan kaki, berusaha menenangkan dan meyakinkan hati. Malam tidaklah cerah kala itu, sepertinya akan turun hujan. Tidak ada taburan bintang di malam itu, tidak siapa-siapa, hanya ada aku dan kamu di seberang sana.
Dengan semua keberanian yang bisa kukumpulkan, kuucapkan perasaanku kepadamu. Yah, itulah pertama kalinya aku mengungkapkan perasaan terhadap seorang perempuan. Ada perasaan senang sekaligus gelisah menunggu jawaban yang akan kamu berikan. Sebuah penantian, itulah yang kuperoleh sebagai jawaban atas ungkapan isi hatiku. Tidak tahu sampai kapan, tetapi kamu meminta kita untuk saling mengenal. Permintaan yang wajar seharusnya, apalagi kita tidak dekat saat SMA. Continue reading





