Tiba-tiba saja kau memintaku untuk dapat membimbingmu kerohanianmu. Cukup kaget mendengarnya walaupun sebenarnya permintaan ini sangat wajar dan bahkan sudah kuduga akan kau minta suatu saat. Hanya saja ada pertanyaan belum pernah bisa kujawab denan yakin, “Mampukah aku mengimbangimu secara rohani?”. Pertanyaan yang telah lama ada dalam pikiranku bahkan sejak aku meniatkan untuk mendekatimu.
Sejujurnya untuk waktu dekat ini, aku belum mampu. Tidak ingin menyalahkan siapa-siapa, sesuatu hal membuat kondisi kerohanianku berada di salah satu titik terendah dalam hidupku. Kau tahu ada kekecewaan menghampiriku dan aku belum benar-benar bisa berdamai dengannya.
Entahlah, kali ini aku benar-benar kesulitan untuk bangkit dan memaafkan. Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya. Aku khawatir tidak mampu memenuhi permintaanmu. Terkadang aku berpikir, cukup layakkah aku bersamamu dibanding sejumlah pria lain yang pernah mendekatimu? Apalagi aku tahu beberapa diantara mereka memiliki kerohanian yang sangat baik. Entahlah, aku pun tidak tahu. Hanya satu hal yang kuketahui, aku menyayangimu dengan sepenuh hatiku dan kau tahu itu.
Tidak banyak yang ingin kutuliskan malam ini selain harapan agar aku segera keluar dari kekecewaan ini dan menjalankan komitmen yang dulu pernah kuambil. Hanya sesederhana itulah permintaanku malam ini. Aku akan mencoba membangun kerohanianku (lagi) secara perlahan bahkan akan sangat perlahan. Aku tidak ingin menggebu-gebu melakukan semua ini hanya karena permintaanmu, adek q sayang. Bersabarlah adek q sayang. Aku berharap segera bisa membimbingmu hanya saja tidak saat ini, tidak dalam waktu dekta ini. Biarlah Tuhan sajalah yang menuntun kita saat ini hingga akhirnya aku siap dipercayakan Tuhan untuk membimbingmu.




